Suara
gemuruh angin sore ini begitu memekakkan telinga. Ditambah lagi, gesekan –
gesekan antara pepohonan seperti teriakan angin yang berlalu - lalang membawa
awan hitam dari arah selatan. Di dalam sebuah kamar di rumah sederhana itu, terlihat seorang gadis remaja yang termenung, mendengarkan
sebuah lagu klasik yang sendu. Matanya terlihat sedikit lembam, hampir
semalaman ia menangis. Entah karena apa. Mungkin cintanya ...
Sekilas
tentang dirimu
Yang
lama ku nanti
Memikat
hatiku
Jumpamu
pertama kali
Janji
yang pernah terucap
Tuk
satukan hati kita
Namun
tak terjadi
Mungkinkah
masih ada waktu
Yang
tersisa untukku
Mungkinkah
masih ada cinta di hatimu
Andaikan
saja aku tahu
Kau
tak hadirkan cintamu
Ingin
ku melepasmu
Dengan
pelukan ...
Alunan lagu itu terdengar sudah puluhan kali mengiang – ngiang
dari kamar Marisa. Ia hanya terlihat sedih. Mungkin cuaca sore inipun turut
mewakili perasaannya. Sesekali ia melihat kearah luar jendela kamarnya. Cuaca
memang benar – benar buruk, menyedihkan. Seperti perasaannya hari ini. Awan
terlihat begitu gelap dan hitam. Angin bertiup kencang. Tapi, tetap saja Marisa tak mengidahkannya. Ia tetap terpaku,
memandang langit kelam dari jendela kamarnya.
Sudah
hampir lima bulan ini, dia tak bertemu pujaan hatinya. Seseorang yang
senantiasa merekahkan senyum di bibir Marisa. Apapun yang terjadi. Dimana ada
Marisa, pasti ada Farhan. Teman – temannya pasti hafal betul bagaimana Marisa
menyayangi dan mengagumi Farhan sebagai sosok yang begitu berharga dalam
hidupnya. Itu terlihat ketika Marisa bercerita tentang dirinya, selalu
memujinya. Mungkin terlalu manis.
***
Sore
itu, langit yang mendung akhirnya menjatuhkan hujannya. Para siswa di sebuah
SMA Negeri di daerah Majalengka mengurungkan niat mereka untuk pulang dari
kegiatan sekolah sore itu. Sebagian dari mereka yang nekat pulang begitu saja
melawan derasnya air hujan. Tapi tidak untuk Marisa. Ia tetap memilih untuk
menunggu hujan reda di depan kelasnya. Sendirian. Teman – teman sekelasnya
sudah menghilang dari tempat itu. Sambil memainkan handphone-nya, ia duduk di bangku depan kelasnya.
Tiba
– tiba terlihat beberapa orang seniornya berlarian lewat di depannya. Dasar
aneh! Pikirnya. Hujan – hujan gini ‘kan
lantainya licin, malah lari – lari. Entar
kalau tikusruk terus titeleum
pasti malu – maluin deh. Belum
selesai ia bergumam seperti itu, ada seorang seniornya yang benar – benar
terpeleset tepat di depan tempat ia duduk. Pemuda itu memandang Marisa dengan
tatapan malu – malu kucing sambil nyengir.
Marisa tertawa ngikik. Pemuda itu balas tersenyum konyol. Ia terlihat seperti
kesakitan.
“Hahaha, makanya Kak, jangan lari – lari
kaya anak TK! Udah tau licin juga” kata Marisa.
“Hem, itu si Toni yang mulai”, jawabnya
sambil memegangi lutunya.
“Sakit ya Kak?”, tanyanya sambil memandangi
wajah laki – laki itu. Marisa tahu dia, bahkan ia juga tahu namanya. Dia adalah siswa yang terkenal
di sekolah ini.
Farhan memandang tajam wajah Marisa. Lalu
berkata, “Enggak kok. Dikit ajah. Hmm, siapa namamu? Aku kok ga pernah tau kamu
ya?”
“aku Marisa. Ya emang aku ga banyak yang
kenal kok” jawab Marisa sambil tersenyum.
“Yah, kalo kamu sih pastinya tau siapa
namaku. Hahaha” jawabnya dengan senyum ngece.
Ih,
dasar. Mentang – mentang banyak yang kenal kok pede amat nih orang. Tapi ya
emang lumayan juga sih. Hehehe. Pikir Marisa.
“Hey! Jangan ngelamun dong. Ditanyain kok
ga jawab. Ya udah, kenalkan nama saya Farhan Maulana. Kelas 3 Science B.
Ngomong – ngomong kamu kelas berapa?” tanyanya sambil senyum pada Marisa.
“Aku kelas 2 Science B” jawab Marisa.
“Wah, ternyata kamu adik seperguruanku ya.
Hehehe” jawab Farhan sambil tertawa gak jelas.
”He, iya sih” jawab Marisa. Ia mulai bosan berbicara dengan Farhan yang ia pikir
sedikit hyperaktif.
“ Yaudah, kamu cepet pulang sana. Hujannya
udah reda nih!” kata Farhan pada Marisa.
Marisa mengangguk. Ya! Jawabnya. “Aku
pulang duluan ya Kak, makasih udah nemenin” kata Marisa. Ia lihat Farhan
mengangguk padanya sambil segera beranjak dari tempat duduknya. Marisa segera
menuju ke dapan, ternyata ayahnya sudah menunggu.
“Kok lama sekali, ada apa Mar?” tanya ayah
Marisa heran.
“Hem, nunggu hujan reda Yah, Marisa ga mau
ujan – ujannan. Ntar kalo sakit gmana?’’ jawabnya.
Ayahnya
tak menjawab perkataan Marisa. Mereka melanjutkan perjalanan pulang.
---
Sejak
saat itu, Marisa semakin dekat dengan Farhan. Teman – teman Marisa mengira
bahwa mereka telah jadian. Tapi Marisa hanya menggeleng.
“Gimana sih kamu itu Mar? Ditanya udah
jadian pa belum cuman geleng – geleng. Tapi aku lihat kalian sering sama –
sama. Kayak orang pacaran tau!’’ tanya Caca penasaran pada Marisa.
“ Aku ga pernh jadian sama Kak Farhan. Kita
Cuma temenan kok” jawab Marisa.
“Tapi kalian selalu sama – sama kan. Terus
keliatannya kamu seneng juga sama Kak Farhan”, kata Eka, temen Marisa yang
lain.
Marisa tersenyum. Ya, memang sudah satu
bulan ini ia selalu jalan dengan Farhan. Kemanapun ia pergi pasti dengan
Farhan. Bahkan Ibunya di rumah sudah mulai hafal dengan tingkah lakuya.
“Eits, kalo jadian ngomong ya. Hahaha” kata
Eka dan Caca.
“Ah, kalian ini. Apa – apaan sih. Gak
mungkin lah ya” kata Marisa sambil senyum – senyum.
“Nah! Ketahuan tuh kan, senyum – senyum.
Pasti sbenernya kamu ngarep juga kan? Secara, kak Farhan kan anak populer di
sekolah ini. Siapa yang ngira coba, Marisa pacaran sama anak populer? Pasti
ikut terkenal kamu” tambah Eka.
“Eh, enak aja ya kamu. Siapa juga yang
pengen terkenal?!” timpal Marisa.
“ah, ya udah terserah kamu Mar” kata Eka.
Caca hanya tertawa. Geleng – geleng.
---
“heh!”
Seseorang merangkul pundak Marisa dari
belakang. Ternyata Farhan.
“Ehm kakak. Ngagetin ajah nih” kata Marisa.
“Hehe, udah makan belom?” kata Farhan
sambil mencubit hidung Marisa.
“Belom, masih belom laper. Kak, lepasin
dong tangannya. Ini kan tempat umum” kata Marisa sambil melepas rangkulan
Farhan. Ia melihat temannya yang senyum – senyum melihat ia dan Farhan.
“hmm, Biarin. Ini kan Cuma kantin” kata
Farhan.
Marisa hanya memandang Farhan. Ia kembali
memandang temannya yang sejak tadi senyum – senyum. Farhan beranjak dari kursi
di samping Marisa. Marisa membiarkannya. Ia melihat temannya menujuk pada
Farhan.
“Biarin” kata Marisa.
---
Hari
– hari Marisa kini selalu ditemani oleh Farhan. Setiap minggu pasti Farhan
mengajak Marisa untuk pergi keluar. Sekedar berkeliling jalanan. Marisa merasa
bahagia. Ada sedikit rasa yang berbeda. Seperti saat itu, di sebuah ayunan di
taman kota itu. Farhan mendorongkan ayunan untuk Marisa. Sebelum ia berkata,
“Aku suka sama kamu” kata farhan sambil
mendorong ayunan yang dinaiki Marisa.
“Ha?” jawab Marisa kaget.
“Hemmmm,” gumam Farhan.
Marisa diam. Ia tak berkata apapun. Ia turun
dari ayunan dan memeluk lengan Farhan. Ia tersenyum. Farhan membalas mengusap
rambut Marisa. Ia memegang tangan Marisa.
“ Mar, lihat aku. Lihat mataku” kata Farhan
pada Marisa.
Marisa
menatap mata Farhan. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seperti kedamaian di
bawah mendungnya langit sore itu. Ia tak tahan dan memejamkan matanya.
Tiba
– tiba gerimis mulai turun. Tapi Farhan masih menggenggam tangan Marisa.
Perlahan Farhan mengecup kening Marisa. Marisa tersenyum. Farhan memeluk Marisa
di bawah hujan gerimis yang semakin deras.
---
Sejak
saat itu, Marisa semakin menyayangi Farhan tidak hanya sebagai kakaknya, tetapi
kekasih. Namun, pada suatu saat ketika semua harus berakhir dan Farhan telah
lulus dari sekolah itu, ia berkata pada Marisa.
“Mar, aku harus melanjutkan studiku ke luar
kota. Maaf ya kalau mungkin kita akan jarang bertemu. Tapi, setiap satu bulan
sekali aku pulang kok. Jadi tenang saja. Setiap bulan kita bisa bertemu” kata
Farhan sambil tersenyum.
“Iya, aku tidak keberatan kak. Berusahalah
yang terbaik demi masa depanmu. Semangat ya” jawab Marisa dengan senyum
manisnya.
Farhan mengangguk. Ia pergi dengan semangat
dari Marisa. Marisa bahagia bisa menemani Farhan selama ini. Ia bersyukur
mendapat seorang kakak dan kekasih seperti Farhan. Ia berjanji akan menunggu
Farhan, setiap hujan turun. Seperti ketika mereka pertama kali bertemu.
---
Setiap
sebulan sekali mereka bertemu dan melepas rindu mereka seperti biasanya. Mereka
bermain – main atau hanya sekedar berjalan – jalan di taman kota. Tapi itu
hanya berjalan dua bulan saja. Dan selebihnya, Marisa hanya menunggu dengan
penantian yang kosong. Sejak empat bulan yang lalu, Marisa menunggu. Tak ada
kepastian. Akhirnya ia menyerah dan putus asa. Bahkan Farhan tak pernah
sekalipun menghubunginya lewat sms atau telepon. Marisa berpikir mungkin karena
Farhan terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya. Ia merelakan. Tapi ketika melihat beberapa
berita di sebuah situs jejaring sosial, Farhan telah memiliki penggantinya.
Dan
itulah yang membuat Marisa benar – benar terpuruk hatinya. Ia hanya bisa
mengenang masa – masa indahnya bersama Farhan. Seperti sore ini, ia mencoba
sekali lagi untuk menanti. Kalau – kalau masih ada kesempatan. Tapi hingga sore
yang hampir gelap ini, tak ada tanda – tanda pesan atau telepon dari Farhan.
Lagi – lagi ia menangis. Hingga ibunya kasian padanya.
“Marisa! Marisa!”
Terdengar
ada suara memanggil - manggil Marisa. Ia tersentak. Ia segera mengusap air
matanya. Sepertinya ia mengenal suara itu.
Marisa
bergegas keluar. Ia melihat seseorang yang selama ini dinantinya. Keadaannya
basah kuyup dan menggigil kedinginan. Marisa kaget dan segera membuka pintu
gerbang rumahnya. Ia benar – benar shock
memandang wajah Farhan.
Farhan
mendekati Marisa dan ia memegang tangan Marisa.
“Maaf, aku tidak pernah menghubungimu.
Bukan maksudku untuk melupakanmu. Tapi aku benar – benar sayang sama kamu,
Marisa” kata Farhan.
Marisa ingin menangis. Tapi ditahannya air
matanya.
“Kak Farhan!” kata Marisa sambil memeluk
Farhan.
Farhan membalas pelukan Marisa dengen erat.
Ia tersenyum dan memegang wajah Marisa. Tangannya yang dingin membuat Marisa
semakin ingin memeluk Farhan lebih erat lagi. Marisa tak ingin kehilangan
pujaan hatinya.
***
Hujan yang mengantarmu, membawamu pergi, dan
mengembalikanmu padaku lagi...

nice ...
BalasHapus