Pages

2012 hak cipta dilindungi Allah SWT. Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 22 Mei 2012

Ketika Hujan


            Suara gemuruh angin sore ini begitu memekakkan telinga. Ditambah lagi, gesekan – gesekan antara pepohonan seperti teriakan angin yang berlalu - lalang membawa awan hitam dari arah selatan. Di dalam sebuah kamar di rumah sederhana itu, terlihat seorang gadis remaja yang termenung, mendengarkan sebuah lagu klasik yang sendu. Matanya terlihat sedikit lembam, hampir semalaman ia menangis. Entah karena apa. Mungkin cintanya ...

Sekilas tentang dirimu
Yang lama ku nanti
Memikat hatiku
Jumpamu pertama kali
Janji yang pernah terucap
Tuk satukan hati kita
Namun tak terjadi
Mungkinkah masih ada waktu
Yang tersisa untukku
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu
Andaikan saja aku tahu
Kau tak hadirkan cintamu
Ingin ku melepasmu
Dengan pelukan ...

            Alunan lagu itu terdengar sudah puluhan kali mengiang – ngiang dari kamar Marisa. Ia hanya terlihat sedih. Mungkin cuaca sore inipun turut mewakili perasaannya. Sesekali ia melihat kearah luar jendela kamarnya. Cuaca memang benar – benar buruk, menyedihkan. Seperti perasaannya hari ini. Awan terlihat begitu gelap dan hitam. Angin bertiup kencang. Tapi, tetap saja Marisa tak mengidahkannya. Ia tetap terpaku, memandang langit kelam dari jendela kamarnya.
            Sudah hampir lima bulan ini, dia tak bertemu pujaan hatinya. Seseorang yang senantiasa merekahkan senyum di bibir Marisa. Apapun yang terjadi. Dimana ada Marisa, pasti ada Farhan. Teman – temannya pasti hafal betul bagaimana Marisa menyayangi dan mengagumi Farhan sebagai sosok yang begitu berharga dalam hidupnya. Itu terlihat ketika Marisa bercerita tentang dirinya, selalu memujinya. Mungkin terlalu manis.
***
            Sore itu, langit yang mendung akhirnya menjatuhkan hujannya. Para siswa di sebuah SMA Negeri di daerah Majalengka mengurungkan niat mereka untuk pulang dari kegiatan sekolah sore itu. Sebagian dari mereka yang nekat pulang begitu saja melawan derasnya air hujan. Tapi tidak untuk Marisa. Ia tetap memilih untuk menunggu hujan reda di depan kelasnya. Sendirian. Teman – teman sekelasnya sudah menghilang dari tempat itu. Sambil memainkan handphone-nya, ia duduk di bangku depan kelasnya.
            Tiba – tiba terlihat beberapa orang seniornya berlarian lewat di depannya. Dasar aneh! Pikirnya. Hujan – hujan gini ‘kan lantainya licin, malah lari – lari. Entar kalau tikusruk  terus titeleum pasti malu – maluin deh. Belum selesai ia bergumam seperti itu, ada seorang seniornya yang benar – benar terpeleset tepat di depan tempat ia duduk. Pemuda itu memandang Marisa dengan tatapan malu – malu kucing sambil nyengir. Marisa tertawa ngikik. Pemuda itu balas tersenyum konyol. Ia terlihat seperti kesakitan.
“Hahaha, makanya Kak, jangan lari – lari kaya anak TK! Udah tau licin juga” kata Marisa.
“Hem, itu si Toni yang mulai”, jawabnya sambil memegangi lutunya.
“Sakit ya Kak?”, tanyanya sambil memandangi wajah laki – laki itu. Marisa tahu dia, bahkan ia juga  tahu namanya. Dia adalah siswa yang terkenal di sekolah ini.
Farhan memandang tajam wajah Marisa. Lalu berkata, “Enggak kok. Dikit ajah. Hmm, siapa namamu? Aku kok ga pernah tau kamu ya?”
“aku Marisa. Ya emang aku ga banyak yang kenal kok” jawab Marisa sambil tersenyum.
“Yah, kalo kamu sih pastinya tau siapa namaku. Hahaha” jawabnya dengan senyum ngece.
            Ih, dasar. Mentang – mentang banyak yang kenal kok pede amat nih orang. Tapi ya emang lumayan juga sih. Hehehe. Pikir Marisa.
“Hey! Jangan ngelamun dong. Ditanyain kok ga jawab. Ya udah, kenalkan nama saya Farhan Maulana. Kelas 3 Science B. Ngomong – ngomong kamu kelas berapa?” tanyanya sambil senyum pada Marisa.
“Aku kelas 2 Science B” jawab Marisa.
“Wah, ternyata kamu adik seperguruanku ya. Hehehe” jawab Farhan sambil tertawa gak jelas.
”He, iya sih” jawab Marisa. Ia mulai  bosan berbicara dengan Farhan yang ia pikir sedikit hyperaktif.
“ Yaudah, kamu cepet pulang sana. Hujannya udah reda nih!” kata Farhan pada Marisa.
Marisa mengangguk. Ya! Jawabnya. “Aku pulang duluan ya Kak, makasih udah nemenin” kata Marisa. Ia lihat Farhan mengangguk padanya sambil segera beranjak dari tempat duduknya. Marisa segera menuju ke dapan, ternyata ayahnya sudah menunggu.
“Kok lama sekali, ada apa Mar?” tanya ayah Marisa heran.
“Hem, nunggu hujan reda Yah, Marisa ga mau ujan – ujannan. Ntar kalo sakit gmana?’’ jawabnya.
            Ayahnya tak menjawab perkataan Marisa. Mereka melanjutkan perjalanan pulang.
---
            Sejak saat itu, Marisa semakin dekat dengan Farhan. Teman – teman Marisa mengira bahwa mereka telah jadian. Tapi Marisa hanya menggeleng.
“Gimana sih kamu itu Mar? Ditanya udah jadian pa belum cuman geleng – geleng. Tapi aku lihat kalian sering sama – sama. Kayak orang pacaran tau!’’ tanya Caca penasaran pada Marisa.
“ Aku ga pernh jadian sama Kak Farhan. Kita Cuma temenan kok” jawab Marisa.
“Tapi kalian selalu sama – sama kan. Terus keliatannya kamu seneng juga sama Kak Farhan”, kata Eka, temen Marisa yang lain.
Marisa tersenyum. Ya, memang sudah satu bulan ini ia selalu jalan dengan Farhan. Kemanapun ia pergi pasti dengan Farhan. Bahkan Ibunya di rumah sudah mulai hafal dengan tingkah lakuya.
“Eits, kalo jadian ngomong ya. Hahaha” kata Eka dan Caca.
“Ah, kalian ini. Apa – apaan sih. Gak mungkin lah ya” kata Marisa sambil senyum – senyum.
“Nah! Ketahuan tuh kan, senyum – senyum. Pasti sbenernya kamu ngarep juga kan? Secara, kak Farhan kan anak populer di sekolah ini. Siapa yang ngira coba, Marisa pacaran sama anak populer? Pasti ikut terkenal kamu” tambah Eka.
“Eh, enak aja ya kamu. Siapa juga yang pengen terkenal?!” timpal Marisa.
“ah, ya udah terserah kamu Mar” kata Eka. Caca hanya tertawa. Geleng – geleng.
---
“heh!”
Seseorang merangkul pundak Marisa dari belakang. Ternyata Farhan.
“Ehm kakak. Ngagetin ajah nih” kata Marisa.
“Hehe, udah makan belom?” kata Farhan sambil mencubit hidung Marisa.
“Belom, masih belom laper. Kak, lepasin dong tangannya. Ini kan tempat umum” kata Marisa sambil melepas rangkulan Farhan. Ia melihat temannya yang senyum – senyum melihat ia dan Farhan.
“hmm, Biarin. Ini kan Cuma kantin” kata Farhan.
Marisa hanya memandang Farhan. Ia kembali memandang temannya yang sejak tadi senyum – senyum. Farhan beranjak dari kursi di samping Marisa. Marisa membiarkannya. Ia melihat temannya menujuk pada Farhan.
“Biarin” kata Marisa.
---
            Hari – hari Marisa kini selalu ditemani oleh Farhan. Setiap minggu pasti Farhan mengajak Marisa untuk pergi keluar. Sekedar berkeliling jalanan. Marisa merasa bahagia. Ada sedikit rasa yang berbeda. Seperti saat itu, di sebuah ayunan di taman kota itu. Farhan mendorongkan ayunan untuk Marisa. Sebelum ia berkata,
“Aku suka sama kamu” kata farhan sambil mendorong ayunan yang dinaiki Marisa.
“Ha?” jawab Marisa kaget.
“Hemmmm,” gumam Farhan.
Marisa diam. Ia tak berkata apapun. Ia turun dari ayunan dan memeluk lengan Farhan. Ia tersenyum. Farhan membalas mengusap rambut Marisa. Ia memegang tangan Marisa.
“ Mar, lihat aku. Lihat mataku” kata Farhan pada Marisa.
            Marisa menatap mata Farhan. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Seperti kedamaian di bawah mendungnya langit sore itu. Ia tak tahan dan memejamkan matanya.
            Tiba – tiba gerimis mulai turun. Tapi Farhan masih menggenggam tangan Marisa. Perlahan Farhan mengecup kening Marisa. Marisa tersenyum. Farhan memeluk Marisa di bawah hujan gerimis yang semakin deras.
---
            Sejak saat itu, Marisa semakin menyayangi Farhan tidak hanya sebagai kakaknya, tetapi kekasih. Namun, pada suatu saat ketika semua harus berakhir dan Farhan telah lulus dari sekolah itu, ia berkata pada Marisa.
“Mar, aku harus melanjutkan studiku ke luar kota. Maaf ya kalau mungkin kita akan jarang bertemu. Tapi, setiap satu bulan sekali aku pulang kok. Jadi tenang saja. Setiap bulan kita bisa bertemu” kata Farhan sambil tersenyum.
“Iya, aku tidak keberatan kak. Berusahalah yang terbaik demi masa depanmu. Semangat ya” jawab Marisa dengan senyum manisnya.
Farhan mengangguk. Ia pergi dengan semangat dari Marisa. Marisa bahagia bisa menemani Farhan selama ini. Ia bersyukur mendapat seorang kakak dan kekasih seperti Farhan. Ia berjanji akan menunggu Farhan, setiap hujan turun. Seperti ketika mereka pertama kali bertemu.
---
            Setiap sebulan sekali mereka bertemu dan melepas rindu mereka seperti biasanya. Mereka bermain – main atau hanya sekedar berjalan – jalan di taman kota. Tapi itu hanya berjalan dua bulan saja. Dan selebihnya, Marisa hanya menunggu dengan penantian yang kosong. Sejak empat bulan yang lalu, Marisa menunggu. Tak ada kepastian. Akhirnya ia menyerah dan putus asa. Bahkan Farhan tak pernah sekalipun menghubunginya lewat sms atau telepon. Marisa berpikir mungkin karena Farhan terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya. Ia merelakan. Tapi ketika melihat beberapa berita di sebuah situs jejaring sosial, Farhan telah memiliki penggantinya.
            Dan itulah yang membuat Marisa benar – benar terpuruk hatinya. Ia hanya bisa mengenang masa – masa indahnya bersama Farhan. Seperti sore ini, ia mencoba sekali lagi untuk menanti. Kalau – kalau masih ada kesempatan. Tapi hingga sore yang hampir gelap ini, tak ada tanda – tanda pesan atau telepon dari Farhan. Lagi – lagi ia menangis. Hingga ibunya kasian padanya.
“Marisa! Marisa!”
            Terdengar ada suara memanggil - manggil Marisa. Ia tersentak. Ia segera mengusap air matanya. Sepertinya ia mengenal suara itu.
            Marisa bergegas keluar. Ia melihat seseorang yang selama ini dinantinya. Keadaannya basah kuyup dan menggigil kedinginan. Marisa kaget dan segera membuka pintu gerbang rumahnya. Ia benar – benar shock memandang wajah Farhan.
            Farhan mendekati Marisa dan ia memegang tangan Marisa.
“Maaf, aku tidak pernah menghubungimu. Bukan maksudku untuk melupakanmu. Tapi aku benar – benar sayang sama kamu, Marisa” kata Farhan.
Marisa ingin menangis. Tapi ditahannya air matanya.
“Kak Farhan!” kata Marisa sambil memeluk Farhan.
Farhan membalas pelukan Marisa dengen erat. Ia tersenyum dan memegang wajah Marisa. Tangannya yang dingin membuat Marisa semakin ingin memeluk Farhan lebih erat lagi. Marisa tak ingin kehilangan pujaan hatinya.
***
            Hujan yang mengantarmu, membawamu pergi, dan mengembalikanmu padaku lagi...



1 komentar: