mengapa angin yang dulu tenang dan membawaku terhanyut dalam
buaiannya
kini menjadi tornado yang menghancurkan lapak nelayan?
Sedangkan aku masih di sini dalam penantian yang tak
berujung
Mendengarkan kata – katamu yang semakin lama aku tak bisa
mengerti
kau pandang sesekali,
sebuah isyarat agar aku tak terlalu tolol untuk menerima
ucapanmu.
Tapi, maaf..
aku memang bodoh dan tak mengerti akan bahasamu..
aku tak dapat menerjemahkannya.
aku tak mengerti bahasa itu.
Tunjukkan!
Jangan kau gunakan bahasa itu!
Sungguh aku tak mengerti, wahai angin..
Hembusanmu yang dulu lembut,
Itulah yang sudah merasuki jiwaku..
Aku bahkan tak dapat mengerti bahasa lain..
Aku sudah tuli..
Yang bisa aku terima hanya belaian lembutmu, angin..
Kau yang mengajariku untuk itu..
Tapi kenapa kini kau menjadi tornado yang bahkan bisa
menghancurkan surau-surau yang kita bangun bersama kala itu,,
Ingatkah kau?
Ketika kau menemaniku membangunnya..
Ya, belaian lembutmu itu yang menemaniku..
Aku masih ingat.. aku tidak lupa..
Angin, segeralah berlalu..
Awan telah menantimu..
0 komentar:
Posting Komentar