Ketika kau buta, maka mata hatimu terbuka
Dan orang buta lebih mengerti
Akan arti dari suara – suara kehidupan yang
menyebakkan
Sunyi.
Itu semua akan terasa sunyi jika kau menutup
telingamu
Tapi orang tuli bisa mendengar lewat bahasa
tubuh mereka
Tapi siapakah sesungguhnya yang tuli?
Siapakah sesungguhnya yang buta?
Ya, akulah dia yang selama ini tak menyadari
akan arti hidup ini
Yang ku rasa hanya semakin menggerogoti jiwaku
Semakin keropos, rapuh dan lapuk
Kosong, tak berdarah
Tiada apa yang tertinggal disini
Hanyalah bongkahan tulang rusuk dalam dada ini
Yang mulai lunak tak berpendirian
Jika saja, aku biarkan luka menoreh hati ini
Dan membiarkannya menganga
Akan terlihat jelas rayap – rayap yang
berpesta pora
Menikmati kehampaan yang dibiarkan
Jiwaku tertahan
Kemudian, benih – benih kegalauan mulai tumbuh
dari bangkai yang keropos
Ketika rasa kepercayaan diriku hilang
Meninggalkanku, sendiri, menapaki jalanan
Dengan perasaan hampir mati karena
keputusasaan
Setelah sekian lama aku terdiam
Duduk, terhuyung – huyung berperang melawan
rasa ketidakpercayaan ini
Ku pandangi pantulan diriku
Dalam tetesan embun senja ini
Semakin keruh, bayangan itu
Tak kuasa, diriku tak rela
Meskipun aku goyah, terhempas, terlepas dari
kehidupan
Yang semerah darah
0 komentar:
Posting Komentar